Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Ketika mendengar berita sejumlah menteri yang diganti, aku berfikir bahwa apa yang terjadi ini adalah puncaknya. Puncak dari segala macam keburukan-keburukan yang terjadi pada orang-orang yang terlena dengan apa yang menjadi anugrah baginya (diawal). Kelengahannya membuat anugrah itu menjadi boomerang…kejatuhannya…ahh.

Yah, …hidup itu naik turun. Seperti gelombang , naik-turun, puncak dan lembah. ada banyak “puncak” dan ada banyak “lembah” yang kita lalui dalam hidup, semuanya bagian dari proses. Namun ada dimana kita bisa melangkah dari satu “puncak” ke “puncak” lain, tanpa harus melewati “lembah” terlebih dahulu…hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukan itu. Mereka yang karena diri mereka pula, maka mereka memperoleh keistimewaan untuk melintas.

Okelah, tapi itu orang-orang tertentu. Bagaimana dengan kita yang orang-orang biasa ini? yang bisa menangis dan marah ketika keadaan menjadikan kita begitu. Tuhan itu Maha Adil kok…dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kita tak akan diberi cobaan yang melebihi kemampuan kita. oooh…sungguh terasa berat cobaan ini. Ingin ku menangis, marah…dst…dst…

Maka datanglah pada-Nya. Menangislah, marahlah…merataplah. Dia Yang Maha Mendengar mengetahui dukamu. Maka bersabarlah. tunggulah saatnya ketika akhirnya perlahan, dari jalan yang berliku dan menanjak itu kau akan tiba dipuncak. Lalu whuuuuushhh…!!! Tiba-tiba semuanya terasa indah. Tak ada lagi duka.

Oh, yaampun…bersyukurlah wahai makhluk fana ! Ingatlah hanya Dia yang mendengar dukamu saat yang lain sudah berpaling darimu, sudah bosan dengan rengekanmu. Tapi apakah kau ingat Dia? apakah kau ingat tuk berterima kasih padanya? eng…ing…eng…

Dalam keterlenaan, kau akan membumbung tinggi. Namun terlalu tinggi kau terlena, bukan kemuliaan yang kau miliki. Kesombongan, keangkuhan, kedengkian. Maka jatuhlah kau lagi. Jatuh…jatuh…dan dimanakah kau akan mendarat? Disisi kaki bukit, ataukah didasar “lembah”?

Sementara mereka yang sejenak terpana, lalu bersyukur dengan “puncak” yang mereka raih, merekalah yang dilindungi-Nya. Dibimbing-Nya menuju “puncak” yang lain, tanpa perlu turun menuju “lembah”.

Seni hidup, begitulah kalau aku menyebutnya. Hanya bisa kau jalankan jika kau tahu kuncinya. Karena hidup adalah anugerah.

Lebaranku kali ini

Tahukah kau bahwa terkadang sangat menyebalkan ketika kau punya ide untuk suatu komunitas yang kau sayangi, orang lain yang diingat sebagai orang yang melakukan ide itu…??

Well, aku pernah. Dan untuk kedepannya (mungkin) nyaris selamanya aku dicap tidak punya peranan apapun dalam komunitas itu. Tentu saja ada yang memandang sebelah mata, ketika bagi mereka kau tak bisa memberi apapun. Walau sebenarnya mereka tahu tidak ada wujud materil yang bisa ku beri karena kondisiku ketika itu. Lalu belum lagi ketika salah satu mulai blak-blakan dengan sindiran mereka. Padahal mereka dengan bangga menyandang sebutan akrab bagi anggota komunitas itu. Hanya karena saat kau cetuskan nama itu, kau sedang bersama seseorang yang ikutan komunitas yang sama, hanya karena saat itu dia yang sedang online dan hanya karena saat itu dia yang memberi komentar di forum online milik komunitas itu dengan menyertakan nama panggilan itu, maka dialah yang untuk selamanya diingat sebagai pencetus nama panggilan bagi anggota komunitas itu.

Belum lagi bonus mengesankan, ketika salah seorang menorehkan luka yang sakitnya membuatku enggan membuka mata lagi setiap paginya. Tapi toh akhirnya setiap hari aku membuka mata juga, dan mau nggak mau hidup kesakitan juga.

Jangan kasihani saya, terimakasih banyak.

Tapi apa yang membuatku bertahan? Apa yang membuatku masih punya keinginan itu, “pulang ke rumah” ?

Apa yang membuatku masih merasa gembira melihat “separuh keluargaku” dan melebur kembali ?

Apa yang membuatku bisa untuk beberapa hal berkata “yasudahlah, toh buat mereka juga…” just let it go dan masih menyebutnya “my community” ???

Sesuatu yang nggak akan dipahami siapapun, sesuatu yang berwujud begitu lembut n silently make its own throne inside of me.

Kasih sayang memang tak bisa dikikis oleh apapun. Bertahta sebagai anugerah terindah yang diberikan oleh Sang Maha Cinta, lembut membalut laksana selimut cashmere. Menyembuhkan lebih cepat daripada obat apapun.

Then suddenly one by one, pain by pain dissapear…

Then life goes on. You found yourself stronger than before. Wrapping in His love…deeply peaceful day was yours. Just feeling free of all odds.

This is life bby, you re matured by pain and happiness every single day, you can’t deny it. Sudah takdir :)

So, if this might be my independence day…i’m so grateful for it. So this is Ramadhan, and here it come…my independence day.

تقبل الله منا ومنكم صيا منا وصيا مكم من العا أدين والفا أزين.

Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri 1432 H.

Pagi hari Minggu ini

Batal ikut birdwatching :(

Kamis kemarin sempat chattingan sama Imam si Peburungamatir yang nggak amatir tu. Iseng aja nanya (walau dalam hati berharap mendapat jawaban “iya, ada”)… “ada birdwatching ga mam?”

Jawabannya sungguh menggembirakan hati. Imam berencana birdwatching ke Plawangan hari minggu ini, 21 Agustus 2011. Eh, kayanya ada yang ultah, siapa ya??

Oops, ngelantur…oke, balik…okela, mari nyari tebengan…resiko nggak punya motor bo, harus rajin nyari tebengan. Sayang beribu sayang, banyak tebengan namun tak ada yang bisa ikut. Akhirnya batal ikut ke Plawangan. Batal birdwatching. Batal ketemu Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) ku tercinta…

Yasudah lah, mungkin belum waktunya. Nggonduk juga sih. Tapi pagi inni, nggak disangka-sangka…bisa-bisanya pengamatan Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus) yang lagi hinggap di pohon tela depan rumah (^^). Seolah menghiburku, si burung berkicau ringan lalu pergi…

Yah, walaupun hari ini batal ketemu si Elja dkk, tapi nanti juga ada waktunya sendiri tuk birdwatching ke Plawangan, salah satu lokasi fave ku tuk birdwatching di jogja. Seperti semua hal didunia ini, semua itu ada waktunya sendiri…

Tidak lagi

Malam ini suasananya tenang, damai. Ngumpul bersama keluarga. Apa yang kurang? nggak ada. Tapi entah kenapa hatiku gelisah. Aku tahu dia sudah tak bisa dipercaya, tak bisa dipegang kata-katanya. Tapi kenapa juga aku masih mendengarnya? Masih berkomunikasi dengannya? Hanya karena sebuah aturan yang melarang memutuskan komunikasi? Hanya karena ini Ramadhan? tapi aku tetap tak bisa menyangkal kemunculan ingatan akan rasa kecewa yang muncul tiba-tiba.

Letih. Tentu saja aku letih. Sabar itu mulai terasa batasannya, mulai jemu bersabar. Sama seperti dulu, ini sama seperti dulu. Rasanya pusing, berputar-putar. Aku sudah tahu dia akan seperti ini lagi, seperti yang pernah terjadi dulu. Dulu…dan sekarang, apakah aku kurang belajar? apakah aku hanya seorang yang lemah dan tolol?

Altruism, terkadang begitu menyusahkan. Ini jelas-jelas tidak mendatangkan manfaat bagiku…tidak sekalipun. Belajar dari masa lalu, sikapi dirinya yang sama seperti dulu, lalu maju terus. Hidup itu anugerah, hidup itu pilihan. Dan aku memilih untuk tidak disakiti lagi.

17 Agustus 2011

Hari kemerdekaan Indonesia….la…la…la… ^^

Tahun ini peringatannya bersamaan dg Nuzulul Qur’an. Asik bener rasanya…mendekatkan diri pada-Nya sekaligus bersyukur untuk 66 tahun kemerdekaan Negaraku…

Bersyukur…marilah bersyukur…ditengah krisis dunia yg masih mendunia ini, kami di Negara ini diberikan keleluasaan untuk berusaha apapun. Dibandingkan Inggris….kita telah bangkit. ya, kita telah bangkit. Semoga, semoga, apa yang terjadi di Inggris sana nggak kan terjadi di negara kita. Cukuplah krisis besar yang terjadi bertahun-tahun lalu. Kini negara kita telah semakin kuat, semakin besar. Kita telah diuji dengan berbagai musibah dan cobaan, janganlah takabur, syukuri apa yang kitamiliki sekarang, apa yang telah dilebihkan-Nya untuk kita, untuk negara kita.

Masih banyak yang harus dibenahi. Tapi bukankah itu tujuan hidup? untuk menjadi lebih baik…selangkah demi selangkah, tahap demi tahap. Maju terus Indonesia, semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Amin.

Dirgahayu Indonesia !

Maju terus Fe :)

“Seiring datangnya kekuatan besar, lahirlah tanggung jawab yang besar pula”

Dimana ya aku pertama kali mendengar kalimat ini? Ah, ya…di film pertama Spiderman. Seiring berlalunya waktu, makin luas lah pemahaman kalimat itu, bagiku :)

“Seiring datangnya amanah besar, datanglah tanggung jawab yang besar”.

Menjalani tiga profesi sekaligus bukan hal main-mail. Mulai dari pengaturan waktu, sampai hal yang paling sederhana yaitu pembawaan diri, harus diatur sedemikian rupa agar semua tanggung jawab terlaksana dengan benar. Salah sedikit saja nama institusi kebawa-bawa. Apa nggak kewalahan? Lama-lama kewalahan juga. Apa boleh buat, walau ketiganya sangat ku suka, toh sebagai manusia, kita nggak boleh serakah. Ambil dua yang paling bisa kulakukan.

Dua…dua profesi sekaligus. Sebenarnya bukan masalah. Alhamdulillah yang satu jadwalnya sangat flexible. Dan satu impian ku pun terkabul, aku punya pekerjaan freelance. Nggak semua orang seberuntung itu bisa memiliki dua profesi sekaligus dan pada waktu yang sama, impiannya terkabul.

Tapi aku sadar, ini nggak bisa selamanya. Mungkin hanya sementara. Manusia harus terus maju, apapun alasannya harus terus maju. Terus…hingga Izrail menjemput. Maju terus Fe, jangan pernah menyerah. Mereka tidak tahu, tapi Allah Maha Melihat :)

Be wise, be strong, be good

Ya Allah, tempatkanlah aku di tempat yang Engkau berkahi. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat. Amin

Daily perpus :)

Disuatu siang yang nganggur, aku melangkahkan kaki menuju perpustakaan kota. Terletak di sebelah selatan toko buku Gramedia Sudirman, perpustakaan ini berada di tepi jalan yang kusukai. Sudah bertahun-tahun, jalan ini sama sekali nggak ada perubahan. Pohon-pohon besar yang dari dulu di tumbuhkan di tengah jalan, kini dirapikan. Menjadi trotoar yang nyaman sekaligus pemisah ruas jalan kanan dan kiri. Jalan yang selalu padat, tapi nyaman !

seberapa panas siang itu, sama sekali tak kurasakan. Mengamati Passer montanus aka burung gereja yang bersliweran dari satu pohon ke pohon lain, dari satu atap ke atap lain.  Menikmati keberadaan rumah-rumah tua di pinggir jalan yang kebanyakan telah beralih fungsi menjadi tempat usaha, sekaligus nostalgia setiap keangan saat melewati jalan ini, hatiku terasa tenang. suasana pun damai…tahu-tahu sudah di depan pintu masuk aja.

Yang ku sukai dari perpustakaan ini adalah kesan nyaman. Senyaman berada di rumah sendiri. setiap kali menyapukan pandang ke lobby utama, rasanya selalu seadem masuk rumah setelah berpanas-panas ria, iyalah perpus kan ber-ac. Bedanya kalo dirumah disambut keluarga, disini disambut petugas perpus. hehehehe. Fe memang lebih nyaman dg perpustakaan ini dibandingkan perpustakaan lain. Mungkin karena kesan Homey nya kali ya. Buku-bukunya juga nggak berdebu, dan yang paling utama, koleksinya baru-baru !!!

bukannya menganaktirikan perpustakaan daerah di lokasi lain seperti di….ah, nggak usah nyebutin aja ya…tapi fe alergi debu. Kalo buku-buku berdebu, fe pasti bersin-bersin. Di perpus ini juga terpasang koneksi wifi, banyak juga yang internetan pake koneksi wifi… tapi fe malah belum pernah make….kebanyakan waktu fe sudah terpakai untuk menjelajahi rak-rak buku…membuka buku-buku menarik, membacanya sekilas, lalu meminjamnya. Sebagian besar novel-novel terbaru yang ku baca, fe pinjam dari perpustakaan ini.

Masyarakat Jogja sebenarnya suka baca buku. Kenyamanan saat membaca pun penting. Siapa sih yang suka membaca di tengah “selimut” debu? di ruangan berbau apak. Mungkin, kalau semua buku-buku lama itu diperbaiki, ditata rapi dalam rak-rak buku bebas debu, di dalam ruangan yang nyaman dan terang, mungkin mereka akan jadi primadona dan tidak ada perpustakaan yang harus ditutup.

dan itulah suatu siang, yang tanpa sadar telah menjadi hari-haru biasa dalam hidupku. Hari-hari favoritku :) selain birdwatching tentunya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.